212 Jangan Sampai Tinggal Sejarah

212 Jangan Sampai Tinggal Sejarah
July 24, 2017 Posted by: Ibrahim Aji Category: Berita

“Saya ingin mengingatkan kembali bahwa peristiwa 212 adalah peristiwa yang besar yang belum tentu terjadi dalam 10-20 tahun mendatang. Tujuh juta orang demo damai, terbesar dalam sejarah Republik Indonesia (RI). Shalat Jumat terbanyak dalam sejarah Indonesia. Ini peristiwa besar. Jangan biarkan ini menjadi sekadar foto , video, novel atau kenangan sejarah”, kata Anggota Pengawas Koperasi Syariah 212, Valentino Dinsi pada Halal bi Halal dan Launching Koperasi Syariah 212 Mobile, di Sentul, Sabtu (22/7).

Setelah 212, umat Islam, bertransformasi menjadi barisan. Dibuktikan, kekompakan untuk tidak memilih pemimpin Non Muslim pada Pilkada DKI Jakarta lalu, dan menang. “Ternyata atas izin Allah, menang, insyallah akan diikuti dengan daerah-daerah lain. Ini momentum, di politik kita sudah melihat jalurnya, tapi jangan berhenti sampai politik, di ekonomi, budaya, dan sosial juga harus. Sekali lagi, ini adalah momentum!” kata Dinsi.

Sebagaimana telah dinyatakan oleh para pimpinan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) saat peluncuran Koperasi Syariah 212 di Januari lalu, semangat perjuangan aksi 212 dilanjutkan dengan revolusi di bidang ekonomi dan sumber daya insani. “Mudah-mudahan Koperasi Syariah 212 akan menjadi lokomotif yang mengawal kebangkitan ekonomi Indonesia. Oleh Karena itu dibutuhkan para mujahid dan mujahidah di bidang ekonomi. Jika Anda siap menjadi menjadi mujahid dan mujahidah ekonomi, mari, tapi jaga keikhlasan, jaga niat”, kata Dinsi menegaskan.

Umat Muslim Baru Jadi Konsumen.

Sementara, Ketua Umum Koperasi Syariah 212, Dr. Muhammad Syafii Antonio, MEc menekankan, pentingnya umat meresapi makna bulan syawal dalam mengembangkan Koperasi Syariah 212 maupun diri pribadi. Bulan Syawal mestinya, ibadah kita meningkat, ketakwaan bertambah karena telah digembleng pada bulan sebelumnya, Ramadhan. “Syawal transformasi menjadi lebih baik, setelah gemblengan di Ramadhan”, kata Syafii di kesempatan yang sama.

Namun ketika dikaitkan dengan kondisi umat Islam, khususnya di Indonesia, terjadi paradoks. Ramadhan adalah pesta kaum Muslim secara spiritual, tetapi yang mendapat keberkahan adalah orang lain. “Ramadhan adalah pesta spiritual kita tapi yang mendapat kebarokahan orang lain”, kata Syafii. Kebarokahan dalam arti finansial. Sebagaimana diketahui, umat Muslim Indonesia, meskipun mayoritas, tidak memiliki kedaulatan ekonomi. Produksi dan distribusi dikuasai oleh umat Non Muslim dan itu pun sangat minoritas. Umat Muslim, hanya sebagai konsumen.

“Tidak ada suatu merk gadget pun yang tahan berbisnis, jika tidak dibeli oleh umat Islam,” kata Syafii. Bahkan, ia mengatakan, sebentar lagi akan ada korporasi besar asing yang akan makin menancapkan kakinya di Indonesia, Charoen Pokphand, salah satu produsen makanan dari bahan ayam terbesar di dunia. “Dalam waktu dekat, Charoen Pokphand akan membuka gerai 10 ribu gerai di Indonesia, untuk berjualan frozen food”, kata Syafii yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) ini.

Nah, itulah, sudah saatnya umat Islam untuk bangkit baik di aspek ekonomi maupun di aspek lainnya, sesuai semangat bulan syawal. “Jadi bagaimana kita menjadi insan yang sehat, pun secara intelektual kita harus maju. Misalnya jika saat ini bisanya tajwid, tingkatkan menjadi tahsin, lalu tarjamah, dan tahfidz. Jadi, progressing, updating, dan upgrading, itulah sebenarnya makna syawal”, kata Syafii.

Sumber:
https://www.koperasisyariah212.co.id/212-jangan-sampai-tinggal-sejarah/

.

.

212 Mart Cikarang Barat
(Koperasi Amanah Mulia Usaha berSama)
(KAMUS)
Cikarang Barat, Bekasi